Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah postingan di salah satu medsos. Dari postingan itu saya merasa mendapatkan sebuah ilmu baru. Seakan memang Allah sedang menguji saya, bagaimana saya akan beramal setelah berilmu, atau memamg Allah sedang mempersiapkan ilmu sebelum saya beramal. Maka tidak berselang lama dari saat membaca postingan itu, saya dihadapkan dengan kondisi yang seakan menuntun untuk mempraktikkan teori yang baru saja di dapat.
Tentang menjadi detektif kebaikan orang lain. Maksudnya gimana? Maksudnya adalah kita belajar melihat dan mencari kebaikan kecil yang dilakukan oleh orang lain. Kita tidak akan banyak protes terhadap sikap orang lain. Kita akan melihat kebaikan (walaupun sangat kecil) yang sedang diupayakan oleh orang lain kepada kita. Kita akan melihat di diri orang lain ternyata ada sebuah ikhtiar kebaikan yang sedang dilakukan. Sehingga ketika bisa melihat dari sudut pandang ini akan memudahkan kita dalam menerima keadaan dan menambah rasa syukur yang ada.
Misalnya seperti apa?
Belum lama ada rekan yang menegur tentang sikap saya. Yaa, memang saya tidak suka dengan caranya, karena nasihat itu disampaikan di depan publik, bukan secara pribadi langsung ke saya. Jika kejadian ini teradi sebelum saya paham tentang konsep menjadi detektif kebaikan, saya akan beranggapan bahwa teman saya ini ga punya adab, menggurui saya, dan beragam stigma lain yang justru akan membiaskan nasihat yang berusaha dia sampaikan. Bahkan bisa jadi emosi saya meluap-luap, yang akhirnya persepsi saya itu akan berdampak pada respon sikap yang saya lakukan terhadapnya.
Tapi, Alhamdulillah, kejadian ini datang setelah saya belajar. Lalu, bagaimana sikap saya?
Saya tidak sakit hati alhamdulillah, saya menganggap itulah upaya kebaikan yang bisa dia lakukan. Dan, alhamdulillah saya juga bisa menerima nasihatnya. Saya paham dengan kesalahan yang telah saya lakukan. Toh ini tentang diri saya, kesalahan saya harus saya akui dan saya perbaiki.
Naah, ternyata menjadi detektif kebaikan membantu diri untuk bisa mengontrol ekspektasi. Karena biasanya ekspektasi kita terhadap orang lain lah yang menyulitkan kita sendiri. Kenapa harus punya ekspektasi tentang sikap orang lain ke kita? Misal, berharap teguran disampaikan dengan cara yang baik, tidak di depan publik, dll dsb. Padahal sikap mereka tidak bisa kita kendalikan. Maka lebih baik kita lah yang mengontrol ekspektasi diri. Jadi seburuk apapun sikap orang pada kita, hadapi saja dengan haha hihi. Coba saya baper-baper, waah pasti sudah tak bisa tegar dan langsung ambyar.
Wednesday, January 29, 2020
Wednesday, January 22, 2020
Memulai menulis
Bismillah. Hallo everyone. Perkenalkan saya jelia, biasa dipanggil jeje. Saya baru saja lulus dari bachelor degree di salah satu kampus dalam negri ini saja kok. Saat ini masih menjadi scholarship hunter dan job seeker. Titip doanya ya semoga segera menemukan jalan perjuangan terbaik verisiNya.
Nah, dipostingan pertama ini memang sengaja basa basi saja sih. Tapi insyaallah basa-basinya bisa meninggalkan kesan yang sangat berharga untuk tidak dilupakan. Saya ingin sedikit menyampaikan alasan kenapa sih nulis blog ini. Biasanya sudah puas dengan nulis caption aja, kok sekarang nulis di blog juga?
Iyaa beberapa waktu yang lalu memang saya menjadi tim copy writer di salah satu masjid di dekat kampus dulu. Menjadi copy writer tentu kerjaannya buat caption dengan berbagai tema. Melalui itulah saya menyalurkan kemampuan tingkat tinggi dalam bahasa yang dimiliki wanita (baca: cerewet).
Lalu, singkat cerita, karena beragam pertimbangan kondisi dan posisi saya, saat ini saya sudah tidak mendapatkan job membuat caption lagi. Waah, diri ini merasa membutuhkan media untuk memenuhi kebutuhan menyalurkan kemampuan verbal yang cukup tinggi. Akhirnya terpilihlah blog sebagai media untuk menyalurkannya.
Selain alasan itu, saya juga ingin belajar berbagi manfaat melalui coretan yang saya tulis. Jika belum mampu untuk orang lain, setidaknya bisa bermanfaat untuk diri saya sendiri. Karena tulisan bisa membantu mengingat detail kejadian yang kita alami. Sehingga minimal tulisan saya mampu menjadi pengingat, yang akan membantu diri agar mudah mengakses start rasa syukur saat terjadi hal-hal yang di luar ekspektasi misalnya.
Rencana saat ini, saya akan menuliskan topik ringan saja, namun entah bagaimana kelak tulisan ini di masa depan. Yang jelas, saya berkeinginan kemanapun arahnya, semua tulisan ini harus bermuara pada Allah dan RasulNya. Titip doanya yaa semoga semakin mampu berbagi makna.
Nah, dipostingan pertama ini memang sengaja basa basi saja sih. Tapi insyaallah basa-basinya bisa meninggalkan kesan yang sangat berharga untuk tidak dilupakan. Saya ingin sedikit menyampaikan alasan kenapa sih nulis blog ini. Biasanya sudah puas dengan nulis caption aja, kok sekarang nulis di blog juga?
Iyaa beberapa waktu yang lalu memang saya menjadi tim copy writer di salah satu masjid di dekat kampus dulu. Menjadi copy writer tentu kerjaannya buat caption dengan berbagai tema. Melalui itulah saya menyalurkan kemampuan tingkat tinggi dalam bahasa yang dimiliki wanita (baca: cerewet).
Lalu, singkat cerita, karena beragam pertimbangan kondisi dan posisi saya, saat ini saya sudah tidak mendapatkan job membuat caption lagi. Waah, diri ini merasa membutuhkan media untuk memenuhi kebutuhan menyalurkan kemampuan verbal yang cukup tinggi. Akhirnya terpilihlah blog sebagai media untuk menyalurkannya.
Selain alasan itu, saya juga ingin belajar berbagi manfaat melalui coretan yang saya tulis. Jika belum mampu untuk orang lain, setidaknya bisa bermanfaat untuk diri saya sendiri. Karena tulisan bisa membantu mengingat detail kejadian yang kita alami. Sehingga minimal tulisan saya mampu menjadi pengingat, yang akan membantu diri agar mudah mengakses start rasa syukur saat terjadi hal-hal yang di luar ekspektasi misalnya.
Rencana saat ini, saya akan menuliskan topik ringan saja, namun entah bagaimana kelak tulisan ini di masa depan. Yang jelas, saya berkeinginan kemanapun arahnya, semua tulisan ini harus bermuara pada Allah dan RasulNya. Titip doanya yaa semoga semakin mampu berbagi makna.
Subscribe to:
Comments (Atom)